
Lampu gerobak Wetiga Langsat itu sudah menjadi ciri khas. Tak ada di angkringan lain. Unik, kata sebagian orang. Mestinya sih teplok, kata yang lainnya lagi — tapi sayang minyak tanah mahal.
Sesungguhnya lampu itu terbuat dari tabung ventilasi kompor minyak tanah (kompor sumbu). Dibeli di Mayestik, harganya sekitar Rp 35.000. Terdiri dari dua tabung, tinggal dihubungan dengan kawat, maka jadilah sebuah lampu.
Lampu itu untuk menerangi jajanan supaya mata pengudap bisa dengan segera membedakan jenis penganan. Dengan lampu juga akan terlihat apakah nasi kucing sudah habis.
Tentu mestinya akan lebih baik jika kap lampu itu diambil dari barang bekas. Reuse. Recycle.
Anda punya ide soal pemakaian barang murmer tapi artistik?
Keduanya asal Jogja, buat mereka ke Wetiga adalah saatnya melepas kerinduan akan angkringan. Inggid datang bersama pacarnya. Kata inggid “Enak mas, tidak terlalu ramai disini dan kangen jogja”. Hohoho makasih mbak dan mas sudah mampir
Little Space Donkey band indie yang memainkan musik elektro ini kemaren mampir ke wetiga. Dari ajakan Ami (foto:sweater biru) yang sebelumnya pernah mampir ke Wetiga. Band yang berasal dari musik kamar dengan bermodal software fruityloop ini mencoba meramaikan musik indie Indonesia. Tengok dan dengar musik mereka disini.
Hami yang jebolan HI UGM ini malam ini mengajak gerombolan barunya ke angkringan. Ngobrol ngalor ngidul, ketawa bareng menambah ceria suasana angkringan wetiga malam ini. Makasih semua!!
Zam, Nilla, Adi, Kian, Taufik dan Aad. Kecuali Nilla, mereka semua awalnya adalah sejawat kuliah dan kawan bermain di Jogja. Sekarang mereka semua hijrah ke Jakarta dan angkringan kami dijadikan home base untuk bertemu, sekaligus klangenan akan angkringan.