Setiap tamu Wetiga itu istimewa. Nah yang ini hanya sampel dari yang istimewa malam ini. Namanya Budiono Darsono, dotcomer lama, pendiri dan juragan emperium detik.com yang ngeblog di (tentu saja) Blogdetik. Dia adalah sobat lawas orang-orang Wetiga dan dagdigdug. Di Wetiga Budiono bersua bekas anak buahnya, Dita, yang memberikan kartu nama dari tempat kerjanya yang baru, sebuah online media juga.

Ada sedia menu baru, seharga Rp 5.000. Namanya bestik galantin. Setiap malam, sementara ini, cuma tersedia 10 porsi – dan selalu habis. Silakan coba. Enak, kata kawan Zam.

Kak Bulbul semakin pede. Dia bukan hanya pegawai tapi wirausahawan calon raja angkringan se Jabotabek. Maka di kantornya pun dia pamer, “Aku punya warung. Ini website-nya.” Teman-temannya kagum, atau pura-pura kagum demi sopan santun manyun.
Lantas apa yang terjadi? Teman-teman di kantor jadi tahu bahwa Pak Iqbal Prakasa yang perkasa lagi digdaya (gudig sedaya) dan sakti mandrajenaka itu ternyata punya nama di luaran sebagai Balibul dan Kak Bulbul. Mulai kemarin dia dipanggil sebagai “Kak Bulbul”. Keren juga. Sungguh berwibawa.
Kolonel Gembul memang terlalu bersemangat menambah kalori untuk meningkatkan bobot dirinya agar tampak berwibawa pada hari bahagianya kelak. Perut menuntut, dagangan pun masuk mulut.
Akibatnya baru pukul sembilan malam lebih sedikit saya tidak kebagian makanan –– menurut kamerad Zam, pukul delapan pun makanan sudah tandas. Masih beruntung Iman yang mendapatkan the last supper. Ndoro Kangkung, sebagai wali Gembul dalam pasal asmara (merangkap penasihat spiritual), sudah mendapatkan jatah preman.
Makanan boleh habis, tapi bandwidth belum habis. Tetamu masih online. Plurk termasuk menu favorit –– sayang tak dapat dimakan.
Apa saja yang terjadi saat makanan kian menipis, silakan Anda yang membuat ceritanya sesuai nomor foto. Cerita terbagus dapat hadiah makan dan minum gratis dari Colonel Sardens. Oh ya, ini prestasi: Chika pulang selewat pukul sepuluh malam. Padahal sudah ditunggu suami, kata entah siapa. Hah? Gosip murahan mahal ini.
Malam sebelumnya Kak Gembul bawa abangnya. Kemarin malam Kak Gembul bawa ibundanya. Dia mau kasih tunjuk dia punya warung. Kemarin malam datang tukang bawa meteran buat ukur ini dan itu, tapi duit Kak Gembul belum diukur soalnya belum mencapai meteran. Intinya itu Kak Gembul mau kasih bukti bahwasanya usaha ini serius adanya.
Ternyata ibunda memanggil Kak Gembul itu “Dik”. Maklumlah kakak memang anak bungsu kesayangan emak. Kata ibunda, Kak Gembul itu dalam urusan dengan lawan jenis itu anu anu anu anu anu… pokoknya off-the-record dah! Ndoro Kakung, salah satu pelindungnya, lebih pahamlah.
Tadi pagi Kak Gembul berangkat kerja pakai baju rapi. Kemejanya dimasukkan. Tali pinggang diikatkan. Tapi dia lupa cukur cambang dan jenggot. Bukan lupa tapi sengaja supaya mirip idolanya yaitu Kak Rhoma.
Jangan lupa tanggal 11 Desember nanti adalah ultah Kak Rhoma. Kak Gembul akan merayakannya di warung dia punya. Tiada larangan untuk begadang meskipun tiada artinya… Sebagai calon raja angkringan yang setara dengan raja dangdut pujaan Kak Gembul boleh begadang dan berdagang.
Petang ini warungnya buka lagi. Kak Bulbul dari kantor langsung bekerja. Dia tampan sekali. Pakai baju kotak-kotak. Mugkin dari kain sarung Lebaran. Jenggotnya menjadikannya macho kayak Kak Rhoma. Hujan sudah reda. Dingin udara basah di luar tapi hati Kak Bulbul hangat senantiasa karena ingat siapa dia namanya yang berwajah rembulan berkulit putih itu. Kalau Kak Bulbul sukses nanti (punya banyak resto waralaba) semoga tidak lupa daratan. Kabarnya pria sukses dikelilingi bahkan dikerjar banyak penggoda. Itulah dunia.
NB: Di sadel motornya ada coretan spidol silver, “Di sini forever”. Entah apa maksudnya.
Hari ini, 27 Oktober 2008, Wetiga juga hendak mengucapkan “Selamat Hari Blogger Nasional” kepada semua yang tengah merayakannya
Sebagaimana sempat dikabarkan oleh seorang seleb blog yang sering juga singgah di Wetiga, hari ini beberapa komunitas blogger di berbagai daerah mengadakan acara menyambut Hari Blogger Nasional, di antaranya adalah komunitas blogger Cahandong di Yogyakarta, Wongkito di Palembang, dan Loenpia di Semarang.
Meskipun Jumat lalu sudah sempat digelar tumpengan dalam rangka menyambut Hari Blogger Nasional di Jakarta (yang mengambil tempat di Warung Wedangan Wi-Fi tercinta kami), boleh-boleh saja jika malam ini teman-teman di Jakarta hendak merayakannya kembali dengan berkumpul bersama, minum susu jahe gepuk seraya ramai-ramai mem-posting mengenai Hari Blogger Nasional
Selamat ber-Hablona*!
*) Hari Blogger Nasional
Pengelola warung berterima kasih kepada semua hadirin dan pendukung (termasuk yang tak hadir) dalam acara peluncuran Wetiga.
Pengelola juga berterima kasih atas reviews tentang Wetiga di blog masing-masing. Sungguh itu semua merupakan apresiasi yang sangat berharga tiada terkira. Review dapat Anda baca di halaman Reviews.
Pengelola juga minta maaf atas pelayanan yang kurang memuaskan selama acara peluncuran. Lebih dari itu pengelola pun mohon maaf atas liburnya warung dikarenakan juragannya sedang melakukan konsilidasi untuk meningkatkan pelayanan. Libur berlangsung tiga satu hari terhitung sejak Ahad 26 Oktober sampai dengan Selasa 28 Ahad 26 Oktober. Rabu Senin malam 27 Oktober warung kembali buka sebagaimana mestinya.
Akhirul kata kami hanya dapat mengucapkan terima kasih lagi.
Salam wetiga,
Pengelola
Berapa orang ya? Kayaknya seratusan lebih (kalau yang datang dan pergi ditotal) yang ikut ngumpul dalam peluncuran wetiga, Jumat malam 24 Oktober. Keramaian yang mirip pesta sunatan itu merupakan peluncuran warung sekaligus peluncuran situs. Minuman dan jajanan free flow adanya. Kolonel Balibul, si juragan warung, sibuk. Beberapa bloggers langsung menyalakan laptopnya karena tersedia wi-fi gratis. Ndoro Wicaksono (blogger Tangerang, presiden PB 2008) dan Tikabangor (blogger Sleman) jadi MC dadakan. Yah, seperti bapak dan anak yang sama-sama aneh tapi menghibur begitulah.
Selebihnya adalah ngariung, nyanyi-nyanyi unplug, door prize, dan ada juga yang begadang sampai Matahari menyapa. Oh ya, ada juga lho ibu-ibu yang datang membawa momongannya. Demi bisa kopdar.
Cerita selengkapnya silakan liat di blog lain. Yang sudah nulis posting dimohon lapor ke sini buat di-link dan dilirik.
“Kalian ini jaringan pertemanan gila. Tau ada krismon kedua malah buka warung,” kata orang nggak penting. Mungkin gila. Juga ngawur. Tapi rencana ini sudah lama. Akhirnya Kolonel Balibul yang menyanggupi, sekitar Ramadan lalu, sebelum ada gonjang-ganjing finansial gombal eh global. Alhasil tadi malam dia melakukan uji coba. Dapat Rp 200.000.
“Kalian ini norak. Katro! Dotcomers tuh mestinya bikin kafe, bukan warung kere,” kata sang priyayi. Maunya sih gitu, jaringan perkawanan bikin kafe. Tapi kami tiada modal. Juga, nature kami kayaknya memang kelas warung.
Apapun kita harus angkat caping untuk Kolonel. Dia berlelah-lelah menyiapkan warung, untuk meneruskan hal yang pernah dilakukannya di Bogor semasa kuliah. Tabungannya jebol.
Maju terus, Bul! Anggap saja sedang jadi Hanibul eh Hannibal memimpin pasukan gajah!